Monday, 11 March 2013


Pancaran Manikam

Created by : Dian Ratna Sari



Saat semua orang tertawa dan bercanda ria dengan sosok wanita yang selalu menemani, setiap saat  selalu menampakkan kebahagiaan dalam setiap hembusan napas yang tak kan pernah bisa terhapuskan oleh masa, tanpa di sadari batang usia pun telah beranjak tinggi.
Pagi hari yang cerah ditemani degan kicaunya suara burung menghantarkan seorang anak menuju gerbang sekolah. Dia dikenal dengan nama panggilan “Shery”.dia adalah siswi yang rajin, disiplin, dan jujur, dia bersekolah di sekolah menengah pertama tunas bangsa. Di samping itu dia juga patuh dan hormat kepada guru – gurunya, tak sekali pun dia berani meninggalkan nasehat gurunya.
Di rumah dia tinggal bersama Nenek, paman, dan bibinya. Penghasilan sehari hari mereka diperoleh dari hasil berdagang kebutuhan – kebutuhan rumah tangga sehari- hari. Selekas pulang sekolah Shery selalu membantu mereka menyiapkan barang – barang yang akan di jual besok harinya.
Seketika sore tiba angin yang berhembus sepoi- sepoi menghantarkannya menuju masjid Darul Iman untuk mempelajari mulianya kitab suci Al – Qur’an. Dia senang melakukannya, walaupun raga tak memungkinkan untuk selalu bersama orang yang di sayangi. Tetapi seiring gemilir angin berlalu kerinduan datang dalam jiwa anak tersebut, seakan akan hati berteriak merindukan sosok wanita yang sangat menyayanginya.
Realita berkata lain, orang tanya telah berpisah karena ketidakselarasan dalam hubungan keluarga, sejak dia berusia satu setengah tahun. Pada saat itu dia sama sekali tidak mengetahui apa- apa,bagaikan kertas yang masih bersih dari hitamnya warna tinta, tetapi bibir kecil yang selalu menyebut dan memanggil nama “mama..mama..dan mama”, kaki mungil yang terus melangkah lalu terjatuh tetapi terus melangkah lagiyang seakan hilang di terpa angin, namun hati yang tulus kini berangsur tegar dalam menjalani kehidupan tanpa kehadiran sosok pahlawan hati layak anak sebayanya.
Kelam pun berganti cerah, tanpa disadari seorang bocah lucu telah memasuki masa remajanya, dia terus menatap jalannya kehidupan bersama ayah dan keluarga dari ayahnya, namun di sisi lain telah ada sosok yang menjadi pengganti ibunya yang membuatnya harus memilih untuk hidup mandiri tanpa peduli akan getirnya kehidupan yang nyata.
Dalam benaknya kehidupan seakan terlihat keras, kejam dan mas depan yang mencekan gelap gulita di matanya. Seakan akan pendidikan menjadi arus besar yang harus dilewatinya, tanda tanya besar menghadang di depan matanya dan ujian nasional menjadi beban besar di punggung gadis kecil tersebut. Hatinya pun bertanya – tanya tak tentu arah untuk melangkahkan kaki di dunia pendidikan selanjutnya.
Asam manis kehidupan telah dia rasakan dan kini membawanya menjadi sosok yang lebih berintgritas bak cemerlangnya pelangi yang berwarna- warni. Suara hati yang memaksanya untuk menyelami lautan ilmu yang begitu luas hingga membawanya meraih bintang yang selalu hadir di dalam mmipimya. Shery adalah seorang siswi yang selalu menjadi bintang di sekolah dia selalu haus akan ilmu pengetahuan dan memupuk kemampuannya agar tumbuh gemilang. Selain itu dia juga aktif dalam kegiatan ekstrakulikuler sekolah, dia juga seorang Qori’ah yang selalu menjadi sosok terpercaya untuk mengikuti berbagai perlombaan Musabaqah Tilawatil Qur’an dengan suara yang merdu yang bisa mengalahkan riuhnya kalbu.
Suatu ketika Shery berada di sekolah, terdengar suara keramaian siswa – siswi di sekolah tersebut, suara tersebut datang dari kerumunan di depan uniknya karya –karya siswa yang di pajang di dinding membuat hatinya terketuk ingin mengetahui apa yang terjadi.
“ Hei.. Apa yang terjadi Sepri?” tanya Shery.
“ oo, begini Sher, ada pemberitahuan dari kepala sekolah utuk anak kelas sembilan bahwa ada sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri Intasional  Sumatera Selatan( Sampoerna Academy )” jelas Sepri.
“ Dimanakah letak sekolah tersebut ?” tanya Shery.
“ Di Palembang” sahut Sepri.
“ Wah .. sayang letaknya cukup jauh dari daerah kita,lagi pula saya yakin siswa – siswi yang bersekolah di sana pasti berasal dari golongan elite” ujar Shery.
“Oo, sama sekali tidak Shery. Sekolah tersebut menyediakan beasiswa khusus hanya untuk anak – anak yang kurang mampu tetapi berprestasi seperti kamu Sher,” Jelas Sepri.
“ Apa kamu yakin Sepri?” Ujar Shery memastikan.
“ ya, itu memang benar Shery” ujar Sepri meyakinkan.
Hati Shery tersentak, tertegun dan hasrat mulia untuk mencoba memasuki kehidupan yang leih luas, demi bertambahnya bekal pengetahuan dan pengalaman hidup .
Keesokan harinya siswa – siswi kelas Sembilan Sibuk membicarakan tentang Sekolah menengah atas Sumatera Selatan ( Sampoerna Academy ). Hatinya pun bertanya tanya dan bergumam “ apakah aku bisa menuntut ilmu disana sedangkan aku tidak punya apa apa”.
Terlebih ketika dia melihat lembaran – lembaran kertas formulir yang telah tersusun rapi di atas meja guru dan siap untuk di kirim. Tubuhnya tersentak panas dingin keringat mengucur dari tubuhnya, lalu tiba – tiba seorang sahabat karib Shery datang menghampirinya.
“Hei, apa yang kau renungkan di sini Shery?” tanya Sepri.
“Aku sedang sedih memikirkan nasib pendidikanku, sep!apa aku sanggup untuk bersekolah di sekolah internasional ?” jelas shery.
“Mengapa tidak shery ..kamu pasti bisa !” ujar Sepri.
“ Terima kasih wahai sahabatku, kau telah membangkitkan semangat dalam jiwaku”. Jawab Shery.
Sepulang sekolah Shery bergegas untuk membantu neneknya seperti biasa, selepas itu dia beranjak dari kesibukkanya untuk mengisi data – data yang tertera di dalam formulir. Apa yang terjadi di lembar pertengahan ? tubuhnya bergetar tetesan air mata tak tertahankan, dan ternyata di dalam formulir tersebut harus terlampir data - data asli tentang orang tua kandung, sedangkan realita sangat jauh berbeda, Shery pun teringat betapa sedih pengalamannya tetapi tak lama kemudian dia pun sadar dia bersegera mengambil air wudhu, yang begitu menyejukkan hati menenangkan jiwa dan di lanjutkan dengan sholat.
Di dalam do’anya terlantun kata – kata indah, menusuk hati, penuh pengharapan, di ungkapnya semua masalah yang terjadi padanya. Setelah itu dia pergi ke rumah ayahnya untuk meminta bantuan, kemudian ayahnya menganjurkan untuk mengisi data ibu kandung di isi dengan data seorang yang kini telah menggntikan posisi ibunya.
Tentunya hati yang begitu indah, lemah, menjadi seakan akan hencur tak tersisa mendengar ungkapan dari ayahnya tetapi Shery hanya diam membisu suara hati yang berkata tidak hanya berteriak dan menggema di dalam jiwa seorang anak remaja tersebut.
Pagi harinya dia kembali pergi ke sekolah dengan penuh pengharapan sambil memandang debu yang berterbanagn kesana kemari membuat hatinya menjadi risau. Sesampai di sekolah di serahkannya formulir kepada gurunya dan tak lupa dia menanyakan tentang semua permasalahannya.
Hati yang risau dan kacau kini menjadi tenang, damai, seakan tak ada luka yang membakar di hati. Ibu memperbolehkan untuk mengisi data orang tua dengan perwalian jika memang kenyataannya tak bisa di paksa, dan formulir- formulir tersebut akan segera di kirim karena batas waktu penerimaannya tinggal tiga hari lagi.
Dua minggu kemudian di umumkan pemenang seleksi pertama dan keberuntungan dari Allah S.W.T datang kepada Shery sehingga Shery bisa untuk mengikuti tes tahap kedua dan disertai dengan home visit. Dua bulan setelah itu tepatnya pada tanggal empat juni pengumuman pemenang beasiswa di publikasikan melalui berbagai media.
Hari itu adalah hari yang sangat di nanti seakan lembaran – lembaran kertas itu menjadi bangkit dari mimpi – mimpinya  yang bisa membawa kemajuan di dalam hidupnya. Kebahagiaan muncul dari raut muka seorang anak remaja tersebut. Walaupun di suatu hari nanti dia  harus rela berada jauh dari nenek, paman, dan ayahnya demi menjadi sosok pribadi yang mandiri, berintegritas dan mampu untuk menjadi seorang pemimpin dan tibalah saatnya untuk kembali melawan arus yang sangat deras dan terjangan ombak yang sangat kuat di tengah keramaian  tetapi tak seorang pun sanak saudara menemani karena cerahnya cahaya manikam yang selalu setia menyinari semua orang yang membutuhkannya.