Pancaran Manikam
Created
by : Dian Ratna Sari
Saat semua orang tertawa dan bercanda ria dengan
sosok wanita yang selalu menemani, setiap saat selalu menampakkan kebahagiaan dalam setiap
hembusan napas yang tak kan pernah bisa terhapuskan oleh masa, tanpa di sadari
batang usia pun telah beranjak tinggi.
Pagi hari yang cerah ditemani degan kicaunya
suara burung menghantarkan seorang anak menuju gerbang sekolah. Dia dikenal
dengan nama panggilan “Shery”.dia adalah siswi yang rajin, disiplin, dan jujur,
dia bersekolah di sekolah menengah pertama tunas bangsa. Di samping itu dia
juga patuh dan hormat kepada guru – gurunya, tak sekali pun dia berani
meninggalkan nasehat gurunya.
Di rumah dia tinggal bersama Nenek, paman, dan
bibinya. Penghasilan sehari hari mereka diperoleh dari hasil berdagang
kebutuhan – kebutuhan rumah tangga sehari- hari. Selekas pulang sekolah Shery
selalu membantu mereka menyiapkan barang – barang yang akan di jual besok
harinya.
Seketika sore tiba angin yang berhembus sepoi-
sepoi menghantarkannya menuju masjid Darul Iman untuk mempelajari mulianya
kitab suci Al – Qur’an. Dia senang melakukannya, walaupun raga tak memungkinkan
untuk selalu bersama orang yang di sayangi. Tetapi seiring gemilir angin berlalu
kerinduan datang dalam jiwa anak tersebut, seakan akan hati berteriak
merindukan sosok wanita yang sangat menyayanginya.
Realita berkata lain, orang tanya telah berpisah
karena ketidakselarasan dalam hubungan keluarga, sejak dia berusia satu
setengah tahun. Pada saat itu dia sama sekali tidak mengetahui apa-
apa,bagaikan kertas yang masih bersih dari hitamnya warna tinta, tetapi bibir
kecil yang selalu menyebut dan memanggil nama “mama..mama..dan mama”, kaki
mungil yang terus melangkah lalu terjatuh tetapi terus melangkah lagiyang
seakan hilang di terpa angin, namun hati yang tulus kini berangsur tegar dalam
menjalani kehidupan tanpa kehadiran sosok pahlawan hati layak anak sebayanya.
Kelam pun berganti cerah, tanpa disadari seorang
bocah lucu telah memasuki masa remajanya, dia terus menatap jalannya kehidupan
bersama ayah dan keluarga dari ayahnya, namun di sisi lain telah ada sosok yang
menjadi pengganti ibunya yang membuatnya harus memilih untuk hidup mandiri tanpa
peduli akan getirnya kehidupan yang nyata.
Dalam benaknya kehidupan seakan terlihat keras,
kejam dan mas depan yang mencekan gelap gulita di matanya. Seakan akan
pendidikan menjadi arus besar yang harus dilewatinya, tanda tanya besar
menghadang di depan matanya dan ujian nasional menjadi beban besar di punggung
gadis kecil tersebut. Hatinya pun bertanya – tanya tak tentu arah untuk
melangkahkan kaki di dunia pendidikan selanjutnya.
Asam manis kehidupan telah dia rasakan dan kini
membawanya menjadi sosok yang lebih berintgritas bak cemerlangnya pelangi yang
berwarna- warni. Suara hati yang memaksanya untuk menyelami lautan ilmu yang
begitu luas hingga membawanya meraih bintang yang selalu hadir di dalam
mmipimya. Shery adalah seorang siswi yang selalu menjadi bintang di sekolah dia
selalu haus akan ilmu pengetahuan dan memupuk kemampuannya agar tumbuh
gemilang. Selain itu dia juga aktif dalam kegiatan ekstrakulikuler sekolah, dia
juga seorang Qori’ah yang selalu menjadi sosok terpercaya untuk mengikuti
berbagai perlombaan Musabaqah Tilawatil Qur’an dengan suara yang merdu yang
bisa mengalahkan riuhnya kalbu.
Suatu ketika Shery berada di sekolah, terdengar
suara keramaian siswa – siswi di sekolah tersebut, suara tersebut datang dari
kerumunan di depan uniknya karya –karya siswa yang di pajang di dinding membuat
hatinya terketuk ingin mengetahui apa yang terjadi.
“
Hei.. Apa yang terjadi Sepri?” tanya Shery.
“
oo, begini Sher, ada pemberitahuan dari kepala sekolah utuk anak kelas sembilan
bahwa ada sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri Intasional Sumatera Selatan( Sampoerna Academy )” jelas
Sepri.
“
Dimanakah letak sekolah tersebut ?” tanya Shery.
“
Di Palembang” sahut Sepri.
“
Wah .. sayang letaknya cukup jauh dari daerah kita,lagi pula saya yakin siswa –
siswi yang bersekolah di sana pasti berasal dari golongan elite” ujar Shery.
“Oo,
sama sekali tidak Shery. Sekolah tersebut menyediakan beasiswa khusus hanya
untuk anak – anak yang kurang mampu tetapi berprestasi seperti kamu Sher,”
Jelas Sepri.
“
Apa kamu yakin Sepri?” Ujar Shery memastikan.
“
ya, itu memang benar Shery” ujar Sepri meyakinkan.
Hati Shery tersentak, tertegun dan hasrat mulia
untuk mencoba memasuki kehidupan yang leih luas, demi bertambahnya bekal
pengetahuan dan pengalaman hidup .
Keesokan harinya siswa – siswi kelas Sembilan
Sibuk membicarakan tentang Sekolah menengah atas Sumatera Selatan ( Sampoerna
Academy ). Hatinya pun bertanya tanya dan bergumam “ apakah aku bisa menuntut
ilmu disana sedangkan aku tidak punya apa apa”.
Terlebih
ketika dia melihat lembaran – lembaran kertas formulir yang telah tersusun rapi
di atas meja guru dan siap untuk di kirim. Tubuhnya tersentak panas dingin keringat
mengucur dari tubuhnya, lalu tiba – tiba seorang sahabat karib Shery datang
menghampirinya.
“Hei,
apa yang kau renungkan di sini Shery?” tanya Sepri.
“Aku
sedang sedih memikirkan nasib pendidikanku, sep!apa aku sanggup untuk
bersekolah di sekolah internasional ?” jelas shery.
“Mengapa
tidak shery ..kamu pasti bisa !” ujar Sepri.
“
Terima kasih wahai sahabatku, kau telah membangkitkan semangat dalam jiwaku”.
Jawab Shery.
Sepulang sekolah Shery bergegas untuk membantu
neneknya seperti biasa, selepas itu dia beranjak dari kesibukkanya untuk
mengisi data – data yang tertera di dalam formulir. Apa yang terjadi di lembar
pertengahan ? tubuhnya bergetar tetesan air mata tak tertahankan, dan ternyata
di dalam formulir tersebut harus terlampir data - data asli tentang orang tua
kandung, sedangkan realita sangat jauh berbeda, Shery pun teringat betapa sedih
pengalamannya tetapi tak lama kemudian dia pun sadar dia bersegera mengambil
air wudhu, yang begitu menyejukkan hati menenangkan jiwa dan di lanjutkan
dengan sholat.
Di dalam do’anya terlantun kata – kata indah,
menusuk hati, penuh pengharapan, di ungkapnya semua masalah yang terjadi
padanya. Setelah itu dia pergi ke rumah ayahnya untuk meminta bantuan, kemudian
ayahnya menganjurkan untuk mengisi data ibu kandung di isi dengan data seorang
yang kini telah menggntikan posisi ibunya.
Tentunya hati yang begitu indah, lemah, menjadi
seakan akan hencur tak tersisa mendengar ungkapan dari ayahnya tetapi Shery
hanya diam membisu suara hati yang berkata tidak hanya berteriak dan menggema
di dalam jiwa seorang anak remaja tersebut.
Pagi harinya dia kembali pergi ke sekolah dengan
penuh pengharapan sambil memandang debu yang berterbanagn kesana kemari membuat
hatinya menjadi risau. Sesampai di sekolah di serahkannya formulir kepada
gurunya dan tak lupa dia menanyakan tentang semua permasalahannya.
Hati yang risau dan kacau kini menjadi tenang,
damai, seakan tak ada luka yang membakar di hati. Ibu memperbolehkan untuk
mengisi data orang tua dengan perwalian jika memang kenyataannya tak bisa di
paksa, dan formulir- formulir tersebut akan segera di kirim karena batas waktu penerimaannya
tinggal tiga hari lagi.
Dua minggu kemudian di umumkan pemenang seleksi
pertama dan keberuntungan dari Allah S.W.T datang kepada Shery sehingga Shery
bisa untuk mengikuti tes tahap kedua dan disertai dengan home visit. Dua bulan setelah itu tepatnya pada tanggal empat juni
pengumuman pemenang beasiswa di publikasikan melalui berbagai media.
Hari itu adalah hari yang sangat di
nanti seakan lembaran – lembaran kertas itu menjadi bangkit dari mimpi –
mimpinya yang bisa membawa kemajuan di
dalam hidupnya. Kebahagiaan muncul dari raut muka seorang anak remaja tersebut.
Walaupun di suatu hari nanti dia harus
rela berada jauh dari nenek, paman, dan ayahnya demi menjadi sosok pribadi yang
mandiri, berintegritas dan mampu untuk menjadi seorang pemimpin dan tibalah
saatnya untuk kembali melawan arus yang sangat deras dan terjangan ombak yang
sangat kuat di tengah keramaian tetapi
tak seorang pun sanak saudara menemani karena cerahnya cahaya manikam yang
selalu setia menyinari semua orang yang membutuhkannya.
